Tuesday, April 28, 2009

Antara Novel Dan Film

Kali ini saya menyoroti beberapa Film Box Office yang belakangan telah muncul dan akan muncul, diantaranya Ada Apa Dengan Cinta, Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, Perempuan Berkalung Sorban dan berikutnya menyusul Ketika Cinta Bertasbih.

Bloger yang sejatinya belum ataw malah bahkan tidak mengerti apa itu perfilman. coba melihat dari sudut Uforia Penonton dan bandinagannya dengan Genre Film, Budaya Film, Kesesuaian Film dengan Novelnya, pengaruh Film terhadapa budaya.

Dilihat dari segi Uforia penonton kalw kita lihat dan telisik lebih jauh, tentu jelas terlihat perbedaan penonton yang mencolok, dimana Film AADC dan AAC yang tentu walaupun dilatarbelakangi dengan kisah yang sejenis yaitu drama percintaan, namun memilki genre yang berbeda yaitu drama cinta khalayak ramai dan drama cinta yang bernuansa religi, tentu Uforia itu ada diamana kebanyakan penonton AADC adalah mereka yang memang terbiasa dengan dunia "BIOSKOP" sedangkan AAC selain yang memang meraka yang biasa dengan "BIOSKOP" dari kalangan santri serta wanita jilababpun terdorong untuk ikut menonton.

Dengan suksesnya film AAC muncullah film-film yang mengangkat Genre Religi seperti film Perempuan Berkalung Soraban yang belakangan menuai banyak kontroversi disana-sini, apakah sesuai ditonton untuk semua kalangan atau terbatas usia dewasa, sedangkan masyarakat pada umumnya tau bahwa film-film yang bernuansa religi (islam tentunya sebagai agama mayoritas di indonesia) itu layak dikonsumsi untuk semua kalangan karena islam adalah "Rohmatan lil'aalamin" (rahmat untuk semua alalm), semua usia, namun ternyata tidak layak untuk semua usia.

Sehingga walaupun film Perempuan Berkalung Sorban tersebut digarap oleh sutradara yang sama dengan Film AAC, namun dengan jumlah penonton yang tidak seberapa sehingga Film tersebut tidak masuk dalam kategori Box Office, sepertinya memang terlihat ambisi sutradara semata dalam film tersebut, serta tidak dibarengi landasan ilmu agama yang cukup untuk menggarap film bergenre religi dan tentunya di film ini belum ada yang melandasi baik itu Novel atau bacaan sejenis dalam pembuatan sebuah film.

Mengulang kesuksesan demi meraih kesuksesan yang lebih itu merupakan ambisi wajar dalam kehidupan manusia, begitu juga dengan difilmkannya kembali Novel Habiburrahman Elsyirozi yang berjudul Ketika Cinta bertasbih, yang jikalau kita mengikuti dari keseriusan pembuatan serta timing waktu yang cukup lama dimulai dari pencarian tokoh sampai take pengambilan gambar dan disutradarai oleh sutradara berpengalaman layaknya patut diharapkan untuk bisa diandalkan kembali demi mengulang sukses pendahulunya yaitu AAC.

Berangkat dari pengalaman pendahulunya AAC yang banyak dikritik terutama dari jauhnya visualisasi antara novel dan filmnya apalagi kalau kita lihat dari segi Syari'ah, penokohan dan pembuatan kronologi cerita yang diubah secara paksa menurut kehendak yang laku di pasaran. Maka kali ini sang penulis Novel benar-benar terlibat langsung dalam penggarapan dan pengawasan syari'at maka, sekali layak untuk kita tunggu penayangannya..

No comments: